Ada cerita tentang orang tua dan anak. Orang tua menjadi teman bagi anak-anaknya di cerita ini.
Ini mungkin salah satu tanda cinta yang ditunjukkan orang tua dengan rela jadi teman bermain anak-anak hihihihi....
Suatu hari, Nina melihat ayahnya dan adiknya bermain perang-perangan. Adik Nina, Dio, membuat senjata mainan sendiri dari raket badminton diikat dengan tali yang menggantung di leher dan lengannya. Ia mengikat kepalanya dengan ikat kepala seperti Rambo. Dio mengganggap senjata yang dibuatnya itu sebagai senapan yang siap menembak musuh-musuhnya. Dio berteriak, "Dar dar dar dar dar dar dar dar..." ketika melihat musuhnya, yaitu ayah. Ketika itu ayah berpura-pura terluka, "Aaaa..." ayah menjatuhkan diri di lantai.
Nina sangat terheran-heran dengan hal yang dilakukan ayah. Menjatuhkan diri di lantai padahal Dio kan hanya menembak dengan senjata bohongan pikirnya.
Tapi ketika itu Dio berteriak kegirangan, seolah dirinya ialah seorang pahlawan pemberantas kejahatan. Ayah pun meminta ampun pada Dio.
"Wah, kamu terluka parah. Apakah terasa sakit?" Tanya Dio pada Ayah.
"Iya, sakit sekali. Ampun, ampuuuun..."
"Baiklah, aku akan mengobati lukamu. Asal kau tidak lagi berbuat jahat, ok!"
"Baik, saya janji. Tapi tolonglah saya..."
Dio pun mengobati ayah dengan membalut luka-luka ayah.
Nina langsung bertanya kepada ibu, "Ibu, kenapa ayah melakukan itu?"
Ibu hanya tersenyum dan berkata, "Biarkan saja ayah dan Dio bermain Nina, kamu mau bermain dengan ibu?"
"Ibu, aku mau bermain masak-masakan, bagaimana kalau kita berperan menjadi koki seperti kak Farah Queen bu?"
"Oke deh, ibu berperan sebagai apa Nina?"
"Ibu jadi bintang tamu, Ibu menjadi seorang turis yang berkunjung ke Indonesia. Nina menjadi kak Farah Queen. Kita berada di Pantai Nusa Dua Bali yah bu, bagaimana kalau kita memasak kue pelangi yang pernah aku buat bersama ibu?"
"Oke deh, ayo kita siapkan bahan-bahan yang kita butuhkan Nina!"
Ibu dan Nina pun bermain bersama. Ibu menjadi seorang turis yang antusias melihat Nina membuat kue. Ibu menikmati kue pelangi buatan Nina dengan wajah berseri-seri. Ini semakin membuat Nina senang dan ingin membuat jenis kue lainnya dan bermain masak-masakan lagi bersama Ibu di lain waktu. Ibu pun dengan senang hati memainkan perannya lagi dan membantu Nina mencoba membuat jenis kue lainnya.
Bermain sangat penting bagi anak. Ternyata orang tua juga dapat menjadi teman bermain bagi anak. Cerita tentang Dio dan Nina menggambarkan betapa mereka senang sekali dan memperlihatkan emosinya dengan tepat. Ayah dan Ibu ikut berperan dalam permainan Nina dan Dio. Dengan ayah berpura-pura terluka membuat Dio merasa bangga sebagai seorang "Hero". Dio juga menunjukkan rasa belas kasih ketika melihat musuh terluka dengan mengobatinya. Permainan ini melatih motorik anak.
Ibu membiarkan Nina menentukan peran dan ide permainan. Ini merangsang imajinasi Nina.
Anak seusia mereka juga memperlihatkan emosinya seperti senang, sedih, takut, cinta, cemas dan sebagainya. Permainan ini mampu membantu anak dalam menempati perasaannya dengan tepat. Kapan mereka harus senang, sedih, dsb. Berikanlah peluang untuk bermain bagi anak agar melatih motoriknya dan melatih kecerdasan emosinya sebagai tanda cinta pada anak :D... Selamat bermain^0^...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar